EPISTEMOLOGI TAFSIR AL-QUR’AN DI ERA DIGITAL: PELUANG, TANTANGAN, DAN BATASAN ETIS ARTIFICIAL INTELLIGENCE (AI).

Authors

  • Muhammad Syaifullah Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Abstract

Perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah merambah ke berbagai lini keilmuan, termasuk studi Islam dan penafsiran Al-Qur'an. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis secara kritis integrasi AI dalam metodologi tafsir Al-Qur'an, peluang rekonstruksi metodologis yang ditawarkannya, tantangan validitas data, serta batasan etis penggunaan mesin cerdas dalam memahami teks suci. Menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka (library research) dengan pendekatan epistemologis dan filsafat teknologi, penelitian ini menemukan bahwa AI menawarkan efisiensi tinggi melalui digitalisasi korpus tafsir, pemetaan tematik (maudhu'i) berbasis algoritma Natural Language Processing (NLP), dan analisis komparatif lintas teks. Namun, tantangan mendasar terletak pada bias algoritma, potensi reduksionalitas makna teks, hilangnya dimensi spiritual (intuisi/dzawq), serta tidak terpenuhinya syarat-syarat mufasir tradisional yang menuntut integritas moral dan spiritual. Artikel ini menyimpulkan bahwa AI harus diposisikan semata-mata sebagai instrumen pendukung (khadim atau wasilah) dan bukan penafsir otoritatif mandiri (mufasir independen). Batasan etis dan metodologis wajib diterapkan guna menjaga autentisitas dan sakralitas teks Al-Qur'an.

Downloads

Published

2026-06-07

How to Cite

Muhammad Syaifullah. (2026). EPISTEMOLOGI TAFSIR AL-QUR’AN DI ERA DIGITAL: PELUANG, TANTANGAN, DAN BATASAN ETIS ARTIFICIAL INTELLIGENCE (AI) . AL-JAMI’: Jurnal Multidisiplin Keislaman, 1(1), 7–13. Retrieved from https://jurnal.nurulyaqinannaba.or.id/index.php/ALJAMI/article/view/65